RSS Feed

MASALAH MATEMATIKA ADA PADA BERHITUNG DASAR

MASALAH MATEMATIKA ADA PADA BERHITUNG DASAR

 

Menurut Staff Ahli Menteri Bidang Teknologi Prof Kamalamullah Ramly sesuai dikutip dari Harian Republika (Jumat, 30/12/11) bahwasannya pendidikan sains dan technologi mampu meningkatkan daya saing bangsa, ia mengatakan insinyur itu tulang punggung kemajuan ekonomi sebuah bangsa.

 

Prioritas permasalahan yang akan dibahas adalah mengenai bagaimana menyelesaikan permasalahan pengajaran matematika agar lebih familiar bagi siswa. Matematika dipilih dikarenakan hampir semua siswa mengatakan mata pelajaran paling sulit dan membuat siswa tertekan adalah matematika. Padahal ketika berbicara mengenai daya saing suatu bangsa maka tidak dapat dijauhkan dari penguasaan IPTEKS (Ilmu Pengetahuan Teknologi dan Seni). Matematika tidak hanya dibutuhkan pada jurusan IPA namun jurusan IPS, Bahasa, dan Seni juga pasti bertemu dengan matematika.

 

Matematika memang bukan indikator utama kecerdasan siswa namun setidaknya penguasaan siswa terhadap materi matematika dapat menyebabkan siswa lebih menyukai sekolah dan lebih memudahkan mereka berpikir logis serta berurut dalam menerima bermacam materi lainnya. Perhatikan petikan berikut ini:

 

”Latar Belakang Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar

Mata Pelajaran Matematika untuk Sekolah Dasar (SD)/Madrasah

Ibtidaiyah (MI)

Matematika merupakan ilmu universal yang mendasari perkembangan

teknologi modern, mempunyai peran penting dalam berbagai disiplin dan

memajukan daya pikir manusia. Perkembangan pesat di bidang teknologi

informasi dan komunikasi dewasa ini dilandasi oleh perkembangan

matematika di bidang teori bilangan, aljabar, analisis, teori peluang dan

matematika diskrit. Untuk menguasai dan mencipta teknologi di masa depan

diperlukan penguasaan matematika yang kuat sejak dini.”

 

Materi matematika mutlak dikuasai secara berkesinambungan karena pemahaman yang putus jenjang akan menyulitkan memahami materi berikutnya. Itulah kenapa mata pelajaran fisika dan kimia tingkat SMU juga mendapatkan imbas akibat kurangnya pemahaman siswa terhadap perhitungan matematika sejak dini.

 

Oleh karena materi yang berjenjang itulah maka penguasaan materi dasar harus diperkuat diantaranya adalah operasional bilangan. Banyak siswa tidak menguasai perkalian dasar, pembagian dasar, perkalian bersusun, pembagian bersusun serta bentuk-bentuk operasi dasar bilangan lainnya. Sehingga ketika guru hendak mengembangkan materi dalam bentuk proses belajar yang aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan sangat sulit diterapkan karena para siswa masih terus bermasalah dengan materi operasi dasar bilangan. Perhatikan petikan berikut ini:

”Panduan penyusunan Kurikulum tingkat satuan pendidikan

Jenjang pendidikan dasar dan menengah Badan standar nasional pendidikan 2006

Panduan pengembangan kurikulum disusun antara lain agar dapat

memberi kesempatan peserta didik untuk :

(e)belajar untuk membangun dan menemukan jati diri melalui proses

belajar yang aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan.”

 

Solusi dari DikNas sekarang DIKBUD

Jika berbicara mengenai permasalahan dunia pendidikan secara umum tentu saja Diknas telah melakukan banyak rencana strategisnya. Namun pada kesempatan ini akan dibahas sebuah alternatif praktis solutif. Salah satu caranya adalah dengan banyak memberikan metode-metode baru mengenai keterampilan-ketampilan mengajar guru. Tentu saja keterampilan yang diberikan harus efektif untuk diterimakan kepada siswa sehingga materi tersampaikan dengan lebih cepat dan efisien (ekonomis).

 

Sadar bahwa guru adalah ujung tombak pendidikan maka pemerintah berpikiran untuk selalu dilakukan pelatihan-pelatihan guru agar materi-materi yang diamanatkan kurikulum tercapai dengan baik dan benar sesuai dengan standar yang ditetapkan BSNP. Dimulai dari program pelatihan guru secara nasional ”Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PPPPTK) Matematika Yogyakarta”. Pada pelatihan ini peserta dipilih dari setiap kabupaten untuk di ”DIKLAT”  secara intensif kemudian diharapkan dapat meneruskannya di kota masing-masing dalam bentuk Kegiatan Pelaksanaan Program Tindak Lanjut. Pada program tindak lanjut ini materi disampaikan secara bertahap mulai dari lingkungan sekolah utusan, KKG Guslah (kelompok kerja guru gugus sekolah) lingkungan utusan, KKG se-Kecamatan, hingga UPTD se-Kabupaten. Sampai disini perhatian pemerintah memang sangat besar demi keberhasilan pendidikan bangsa ini.

 

Mengenai keberhasilan program ini patut kiranya dilihat penerapannya di sekolah-sekolah. Lakukan penyelidikan sederhana. Caranya:

1. uji kemampuan siswa sesuai tingkatannya bahkan untuk kelas V masih bejibun yang belum mampu melakukan pembagian bersusun. Materi pembagian bersusun disampaikan mulai kelas tiga smt 1 dan kelas IV semester 1. Wajar jika belajar menyenangkan belum dapat dilakukan. Berhitung dasar saja belum mampu apalagi analisa soal cerita.

2. bertanya kepada guru kelas VI (enam). Apakah menyenangkan mengajarkan matematika kepada kelas VI (enam). Kebanyakan akan menjawab dengan penuh emosional atau pasrah dengan keadaan. Jika materi sekolah dasar belum optimal dikuasai bagaimana untuk kelanjutan materi SLTP dan SLTA bukankah hirarki belajar matematika harus berjenjang. Pantas kiranya jika matematika masih menjadi hambatan pelajar bangsa Indonesia.

3. uji nilai rapot siswa. Cari fotokopi naskah soal matematika yang baru diujikan kemudian suruh siswa untuk mengerjakan. Kemudian nilai sendiri layakkah nilai pada raport diberikan?

 

Jika ketiga tes sederhana ini hasilnya positif maka sekolah yang anda uji coba layak bagi putra-putri anda. Jika hasilnya sesuai dengan yang saya tuliskan maka walaupun anda guru pada sekolah tersebut maka anda akan berpikir 1000 kali untuk menyekolahkan anak anda di tempat itu.

 

Keberhasilan guru mengajar bukan karena ada satu siswa yang berhasil mendapat nilai 9 atau 10 bahkan memenangi kontes matematika, namun jika siswa yang mendapat nilai kurang dari 6 masih 50% maka masih sulit dikatakan berhasil.

 

Permasalahan pokok dari pengajaran matematika di tingkat sekolah dasar bukan pada motivasi belajar murid yang rendah karena mereka anak desa, anak petani, orang tua yang tidak peduli atau alasan latar belakang siswa lainnya. Permasalahan pokoknya ada pada kurang berhasilnya metode yang digunakan guru untuk menyampaikan materi dikelas. Tentu ada pertanyaan mau memakai cara apalagi? Semua sudah saya lakukan agar murid saya mengerti. Murid saja yang tidak mau mendengarkan dan ramai sendiri.

 

Untuk manjawab pertanyaan ini saya telah melakukan uji coba di kelas pedesaan yang bahkan masyarakat sekitar yang memiliki dana, lebih memilih sekolah di daerah lainnya (informasi kepseknya), saya melakukan uji coba di kelas yang muridnya sulit diatur (versi wali kelas V). Setelah saya masuk selama tiga hari pada kelas V dan kelas III, hasilnya siswa termotivasi untuk belajar lihat VIDIO dan FOTO yang saya ambil. Padahal saya mengajari mereka perkalian bersusun dan pembagian bersusun yang memang awalnya mereka tidak bisa. Untuk hal ini saya menyampaikan hormat saya dan rasa terima kasih saya kepada kepala sekolah dan para guru yang memberikan ijin kepada saya untuk melakukan uji coba.

 

Solusi KAKON

Mengenai fakta ini saya bukan bermaksud menyalahkan para guru karena ternyata secara nasional masalah pengajaran pembagian bersusun memang sulit ditangani. Untuk itulah bagi yang berkepentingan untuk MENGUJI metode mengajar hitungan dasar yang saya temukan apakah layak diterapkan pada sistem pendidikan dasar di Indonesia.

 

Mengingat teknik porogapit sangat abstrak dan tidak memenuhi teori pembelajaran discovery oleh Bruner. Maka sudah selayaknya untuk mempertimbangkan metode pembagian bersusun KAKON. Baca artikel saya porogapit VS tabel kakon

About kakonindonesia

penemu kakon lumajang jawatimur

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: