RSS Feed

KATROL NILAI KORUPSI PROSES PENDIDIKAN

KATROL NILAI KORUPSI PROSES PENDIDIKAN

 

A. Kompetensi Dasar yang Diabaikan

“Hasil perolehan murid tidak wajar karena didominasi nilai 8 dan 9,” kata Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Mohammad Abduhzen. Perubahan komposisi nilai penentu UN juga bisa membuat guru atau pihak sekolah semakin nakal. ”Kenakalannya ya mempermainkan nilai rapor,” ujarnya di kantor Komnas Perlindungan Anak, Kamis 14 April 2011. Abduhzen mengatakan, rata-rata setiap kepala daerah meminta angka kelulusan 90 persen hingga 97 persen. Padahal, dari hasil penelitian PGRI, jika UN dilakukan secara sportif dan objektif, angka kelulusan siswa 40 persen hingga 50 persen. Angka itu bisa semakin anjlok untuk sekolah-sekolah terpencil.

 

Setelah mencontek, katrol nilai sepertinya akan menjadi masalah lama yang akan menguat dengan disahkannya formula 40% nilai rapot dan 60% nilai UN.

 

Katrol nilai dilakukan untuk memenuhi ketuntasan belajar dengan mengkorupsi faktor indikator. Sehingga siswa sudah dianggap berhasil memenuhi kompetensi dasar. Mari kita perhatikan tujuan setiap tingkatan pendidikan berikut ini:

 

Tujuan pendidikan dasar adalah meletakkan dasar kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut.

 

Tujuan pendidikan menengah adalah meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut.

 

Tujuan pendidikan menengah kejuruan adalah meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih

lanjut sesuai dengan kejuruannya.

 

Jika pada setiap tingkatan pendidikan, siswa dipaksa lulus menggunakan katrol nilai, maka siswa tidak memenuhi kompetensi untuk mengikuti tingkat pendidikan selanjutnya. Perhatikan pengertian kurikulum berikut ini:

 

Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.

 

Jika kemudian pada pendidikan tingkat dasar, siswa tidak memenuhi Standar Kompetensi Lulusan (SKL) maka untuk tingkat selanjutnya siswa akan mengalami gangguan belajar.

 

SKL merupakan kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan dan keterampilan sebagaimana yang ditetapkan dengan Kepmendiknas No. 23 Tahun 2006.

 

Hal ini dikarenakan penyusunan kurikulum memang di desain untuk dilakukan secara bertahap. Tidak dapat ditempuh secara terputus dan berloncatan. Mungkin ini adalah jawaban kenapa pada banyak sekolah di akhir kelulusan harus terjadi huru-hara Ujian Nasional.

 

Kurikulum meliputi substansi komponen muatan wajib kurikulum, muatan lokal, dan pengembangan diri secara terpadu, serta disusun dalam keterkaitan dan kesinambungan yang bermakna dan tepat antar substansi.

 

Untuk menerapkan beban kurikulum memerlukan alokasi waktu yang telah diatur sehingga tidak mungkin les tambahan maupun bimbingan belajar di akhir masa sekolah selama tiga bulan mampu menggantikan bertahun-tahun masa belajar siswa.

 

B. Korupsi Pada Proses Penilaian

“Program Corrupted” barangkali demikian pesan yang muncul jika salah satu bagian pendukung suatu aplikasi software hilang atau tidak dijalankan akibat terserang virus komputer.  Hal ini pula yang melanda proses pendidikan di NKRI tercinta. Virus tersebut dikenal dengan istilah KATROL NILAI. Untuk mengetahui bagaimana virus KATROL NILAI bekerja, mari kita perhatikan salah satu bagian proses pendidikan yang seharusnya di eksekusi. Bagian itu ada pada proses penilaian.

 

Mari kita perhatikan bagaimana proses penilaian seharusnya bekerja. Pada proses pembelajaran unsur indikator selalu tertera pada silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) melalui indikator inilah penilaian dibuat sehingga dapat diketahui apakah kompetensi dasar telah dimiliki atau belum. Jika siswa telah mampu memenuhi unsur indikator yang telah ditetapkan maka nilainya baik. Namun jika siswa tidak memenuhi indikator yang telah ditetapkan maka siswa harus mengikuti proses remedi. Selama ini remedi dianggap sebagai ujian ulang namun sesungguhnya remedi adalah proses pembelajaran ulang yang harus diberikan guru kepada siswa-siswa yang belum memenuhi indikator sehingga siswa tersebut dapat memiliki kompetensi dasar.

 

Berikut ini akan dijelaskan bagaimana proses virus KATROL NILAI meracuni proses pendidikan kita.  Ketika proses pembelajaran, guru kurang mampu memanajemen kelas sehingga kelas ramai dan murid enggan mendengarkan pelajaran guru. Hal ini berakibat kepada indikator tidak terpenuhi. Indikator ini menunjukkan siswa harus menerima remedi. Namun guru tidak melakukan remedi. Pada pembelajaran materi berikutnya dikarenakan materi sebelumnya tidak dikuasai maka terjadi proses yang sama (loop) yaitu kelas ramai dan murid enggan mendengarkan pelajaran dari guru, sehingga kembali indikator tidak terpenuhi. Saat kelulusan tiba, nilai siswa tidak memenuhi SKL sehingga dengan alasan citra sekolah maka diadakan manipulasi nilai yang ditinggikan. Pada proses ini racun virus mulai bekerja.

 

C. Manipulasi yang Meracuni

Ketika virus KATROL NILAI sudah menyatu dengan proses pendidikan, dampak nyata yang terjadi adalah

1. Pada setiap pembelajaran di kelas, siswa malas menerima pelajaran dari guru dengan sebab guru kurang memiliki wibawa dan siswa kurang berkompeten menerima materi lanjutan.

2. Terjadi tekanan mental dalam kelas dikarenakan proses pembelajaran yang tidak selaras dengan kurikulum. Berakibat siswa berpikiran bahwa sekolah tidak menyenangkan.

3. Saat ujian kenaikan kelas siswa menanggung beban materi yang belum dimiliki sedangkan les kurang begitu optimal. Ini adalah kerusakan terparah yang telah menjangkiti dunia pendidikan kita.

 

Kerusakan sistem pendidikan membuahkan mencontek sebagai solusi, sekolah ikut mendukung kecurangan saat ujian, naluri sebagai guru ditinggalkan demi citra sekolah, lulusan tidak memiliki kompetensi, generasi pengganti bangsa lemah.

 

D. Generasi Lemah

Siswa sekarang akan mengurusi bangsa di masa depan. Jika para siswa memiliki kompetensi lemah yang terjadi adalah:

1. Jika menjadi pejabat

Keputusan yang dibuat kurang mendalam berakibat tidak singkron dengan kebijakan lain berakibat kekacauan. Saat kekacauan terjadi maka mereka akan mengambil keputusan jangka pendek. Tentu saja akan menimbulkan kekacauan baru. Tentu saja akan terjadi pembengkakan anggaran belanja.

2. Dalam Dunia Kerja

Kompetensi yang rendah berakibat pada daya saing bangsa di tingkat global akan terpuruk. Kebutuhan dalam negeri akan dipenuhi melalui impor mis: beras hingga mainan anak. Pengelolaan sumber daya alam akan diserahkan kepada perusahaan asing sedangkan pada bagian tenaga kasar dilakukan bangsa Indonesia dan penjajahan ini akan berbunyi “membuka lapangan tenaga kerja baru”. Bahan mentah tidak dapat dikelola perusahaan dalam negeri sehingga ekspor bahan mentah terjadi besar-besaran walaupun dalam negeri sangat membutuhkan.

 

Ketika dua hal tersebut sudah menjadi kenyataan maka yang akan terjadi adalah:

1. Negara Indonesia Menjadi Boneka

Tentu saja wilayah NKRI adalah harga mati. Namun lain halnya ketika negara sangat membutuhkan dana untuk mencukupi Belanja Negara dalam APBN. Negara akan menerima segala macam bentuk bantuan dari negara asing. Tentu saja meskipun berbunyi bantuan, selalu ada syarat yang harus dipenuhi pemerintah. Demikian pula ketika terjadi Moratorium (pemotongan) hutang. Akan ada syarat lagi yang harus dipenuhi. Jika hal ini berlangsung terus maka kemandirian (baca: kedaulatan) bangsa akan tergerus oleh syarat-syarat itu. Lalu apakah masih berguna slogan wilayah NKRI adalah harga mati.

 

2. Rakyat Sengsara

Ketika situasi hukum tidak menentu, penegak hukum hanya tegas kepada rakyat lemah, suap dan korupsi menjadi tradisi pejabat maka rakyat akan memilih hukum rimba sebagai jawabannya. Tentu saja saat ini belum ekstrim seperti itu namun pada beberapa daerah telah dikenal penguasa non-seragam yang sulit tersentuh hukum.

 

Harga barang yang tinggi tidak diikuti pendapatan yang dapat mencukupi kebutuhan hidup. Sedangkan dikarenakan kompetensi yang rendah berakibat pada kegiatan ekonomi yang mengumpul. Kegiatan ekonomi yang bersifat kerumuman ini menuju pada persaingan yang ketat dan rawan memicu konflik. Sedangkan bagi golongan rakyat yang sulit memasuki kegiatan perekonomian legal maka mereka akan terpancing untuk menjalankan ekonomi yang bersifat ilegal. Hal inilah yang menjadikan kondisi sosial menjadi tidak stabil. Rawan kejahatan dan kerusakan norma-norma sosial.

 

E. Solusi Ada Pada Pendidikan

20 tahunan mendatang bangsa Indonesia akan mendapatkan bonus ledakan penduduk usia produktif. Banyak negara-negara berkembang menjadi kaya dengan memanfaatkan momentum ini. Namun jika momentum ini gagal dilakukan maka potensi ini akan menjadi bencana pada saat produktifitas mereka menurun.

Dalam rangka mempersiapkan mereka untuk menjadi potensi yang terpakai maka dunia pendidikan harus sukses dalam membina mereka. (Selanjutnya dapat dilihat pada artikel layakkah Indonesia dijajah)

 

F. Katrol Nilai Berhasil Dihilangkan

Sistem pendidikan yang bagus tidak akan mendapatkan hasil baik jika dalam pelaksanaannya, katrol nilai dan mencontek masih terus dilakukan. Katrol nilai dan mencontek bukan kesalahan siswa dan guru. Sistem pendidikan terdiri dari banyak organ yang harus bergerak secara dinamis dan sinergis. Jika terdapat satu saja organ yang tidak berjalan selaras maupun program yang melenceng maka sistem pendidikan hanya merupakan wacana saja. Kenyataan katrol nilai dan mencontek terjadi dikarenakan faktor internal (Manajemen) sekaligus faktor eksternal (Lingkungan) sekolah. Untuk memperbaikinya harus dilakukan dari kedua faktor sekaligus. Fungsi KAKON mengobati faktor klinis yang ada pada bagian detail, yakni guru kurang dapat memberikan mainan (alat peraga+metode mengajar) yang tepat saat mengajar di kelas (bisa karena waktu atau pikiran).

 

Ketika sistem pendidikan kita berhasil menghapus katrol nilai maka yang terjadi adalah:

Guru akan menjadi profesional dikarenakan mereka memiliki kemampuan mengajar yang baik dalam menyampaikan materi. Selain itu mereka juga memiliki kesadaran pengajaran yang harus benar jika ingin hasil yang baik. Siswa merasa sekolah akan menyenangkan dikarenakan motivasi mereka bukan sekedar mencari pekerjaan menggunakan ijasah namun persaingan hidup terjadi dikarenakan kualitas diri yang mumpuni. Selain itu kelas menjadi ruang menyenangkan penuh dengan imajinasi dan sarana mendapat pengalaman baru. Sekolah menjadi tempat menempa diri untuk mengembangkan potensi diri yang meskipun berbeda namun semuanya dapat disalurkan. Penanaman nilai-nilai adiluhung mudah diterima secara efektif dengan cara yang logis. Lebih mengedepankan diskusi daripada dogmatis. Tentu saja ketika budaya diskusi sudah tertanam maka budaya membaca akan terangkat.

 

Generasi kita akan menjadi generasi cerdas dan berakhlak karimah. Bangsa Indonesia akan bangkit. Para pahlawan akan tersenyum melihat jerih payah mereka merebut kemerdekaan mampu diestafet dengan baik oleh generasi penerus bangsa. Allooooohu akbar…merdeka…merdeka…merdeka… demikian bung Tomo membangkitkan semangat arek-arek Suroboyo menghadapi sekutu.

About kakonindonesia

penemu kakon lumajang jawatimur

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: