RSS Feed

POROGAPIT VS KAKON

POROGAPIT VS  KAKON

(membahas salah satu fungsi dari 7 alat KAKON)

ini VIDEOnya

Pada artikel ini penulis masih mempertimbangkan unsur selera bagi masing-masing pengguna. Namun jika harus disampaikan kepada siswa SD dengan tingkat pemikiran yang masih konkrit, maka lebih bijaksana jika kita melihat perbandingan metode porogapit dan metode memakai kakon

Kelebihan porogapit dari segi kepraktisan, sistematika perhitungan, dan kemudahan dalam KBM (Kegiatan Belajar Mengajar) masih dapat dilakukan lebih baik dengan menggunakan KAKON.

Kelemahan porogapit

  1. Proses pembagian porogapit tidak melalui proses pengenalan dari bentuk konkrit. Porogapit dikenalkan langsung pada tahapan berhitung angka yang merupakan tahapan abstrak.
  2. Kelemahan ketika siswa membagi angka yang lebih kecil dari pembaginya, lupa tidak memberikan angka nol pada hasilnya.
  3. Kelemahan pada sistem penulisan perhitungan yang tidak lurus dapat berujung pada kesalahan pandang saat menghitung.
  4. Alur perhitungan yang menulis dengan arah bergantian atas dan bawah bisa menjadi beban pikiran siswa dalam melakukan pola hitung apalagi bagi siswa yang lemah dalam perhitungan (kebingungan pola).

Kelebihan pembagian bersusun KAKON

  1. Dapat diajarkan sesuai dengan teori pembelajaran matematika Bruner yang dimulai dari tahapan konkrit dikarenakan teknik pembagian bersusun KAKON, memiliki alat peraganya.
  2. Sistematika penulisan dalam bentuk tabel, lebih memudahkan ketika menghitung dan meminimalisir kesalahan proses hitung. Dikarenakan alurnya yang lebih simple (runtut menyamping dan ke bawah).
  3. Siswa yang belum menguasai perkalian dapat melakukan pembagian bersusun baik dengan menggunakan alat KAKON ataupun tanpa menggunakan alat KAKON yaitu bisa dengan cara menggambar.
  4. Konsep pembagian lebih konkrit dan lebih mudah diterima.

Kelemahan pembagian bersusun KAKON. Acuan teori pembelajaran yang digunakan masih menggunakan teori mengajar Bruner yaitu Enaktif (konkrit), Iconic (semi konkrit), Abstract. Sehingga dalam hal ini kelemahan metode pembagian bersusun masih belum ditemukan.

Bandingkan  contoh penggunaan metode porogapit dan pembagian bersusun metode kakon berikut:

Cara Porogapit dari buku Cerdas berhitung matematika 3 : untuk SD/MI kelas III/Nur Fajariyah, Hal. 64

Cara KAKON

a)      245 : 5

dibagi : 5 sisa
2 0 2
24 4 4
45 9

245 : 5 = 49

b)      392 : 7

dibagi : 7 sisa
3 0 3
39 5 4
42 6

392 : 7 = 56

Sampai disini manakah yang lebih anda sukai, tentu anda sendiri sebagai pemakai yang berhak menentukan.

Mengenai pengajaran pembagian bersusun KAKON kepada siswa ada 3 tahap yang dilakukan. Sesuai dengan teori bruner

1. Tahap Enaktif (fakta konkrit)

Dihadirkan benda kakon untuk dimainkan siswa.

2. Tahap Ikonik (semi konkrit)

Penggambaran alat kakon menjadi bentuk tabel.

3. Tahap Simbolik (abstrak)

Pentabelan pembagian bersusun kakon. Pada tahapan ini siswa akan mampu menghitung pembagian bilangan hingga angka berapapun.

Berdasarkan uji coba di kelas. Kecepatan siswa melalui setiap tahapan bervariasi dan kakon mampu menampung semua siswa hingga tingkat yang mampu ia capai. Meskipun waktu pemahaman berbeda namun semua siswa masih mampu berupaya pada setiap tahap. Sedangkan pada porogapit dikarenakan pembelajaran langsung pada tahap simbolik (abstrak) maka siswa yang kecerdasan matematiknya kurang, siswa tersebut tidak mampu berbuat apa-apa (tidak ada pekerjaan yang dapat dilakukan untuk berlatih).

Kalimat mudahnya dengan menggunakan kakon, pembagian bersusun hanyalah sekedar mainan.

Untuk selanjutnya dapat dilihat pada proposal KAKON (Ada 7 alat dengan multi fungsi. Sedangkan pembagian bersusun metode KAKON adalah salah satu fungsi saja). Silahkan hubungi saya:

KAKONINDONESIA@YAHOO.COM

Mari selamatkan Generasi Indonesia, dari stress akibat belajar…

Mari beri kemudahan dalam belajar…

Stop! Mencontek

Stop! Katrol nilai…

About kakonindonesia

penemu kakon lumajang jawatimur

11 responses »

  1. kalo yg ini gimana ? 789:56 ????

    Reply
    • okay haliza trims atas pertanyaannya.
      caranya sama saja.
      buat tabel pembagian cara kakon dulu yah?
      kemudian masukkan angkanya pada tabel.
      berikut ini adalah perhitungan secara bertahapnya.
      1. 78:56 kan 1 sisa 22. (kenapa jawabnya 1 krn klo 2 pastinya lebih dari 78 kan)
      2. 229:56 kan {(50+6)x4=200+24) ketemu 4 sisa 5.
      mulai no. 3 sudah masuk wilayah desimal (lihat caranya pada buku download)
      3. 50:56 kan 0 sisa 50. (dibagian ini klo pake porogapit biasa terjadi salah hitung)
      4. 500:56 kan {(50+6)x8=400+48} ketemu 8 sisa 52.
      5. 520:56 kan {(50+6)x9=450+54} ketemu 9 sisa 16.
      6. dst
      jadi 789:56=14,089…
      perhitungan dalam kurung adalah pendekatan berdasarkan kakon kalibagi.
      bagi yang mau belajar silahkan mulai dari yang termudah.
      klo sudah tau aturannya, semua pembagian akan mudah dilakukan.
      bagi yang sudah bisa, supaya mengajarkan kepada teman lainnya yah…

      Reply
  2. bermanfaat nih ilmunya.. makasih ya mas..

    Reply
  3. matur suwun mas atas postingnya tentang pro gapit, ni yang namanya posting bermanfaat, tak tunggu lagi posting yang lebih sulit. ok ma kacih

    Reply
  4. macacih eaa inponyia….

    Reply
  5. pak pesanan kakon pembagian atas nama nasro purwokerto dikirim kapan?uangnya sudah saya transfer.

    Reply
  6. mas kalau soalnya begini 1144:22

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: