RSS Feed

Download Buku Kakon

buku ini adalah penggunaan KAKON portabel (penggabungan kakon kali dan bagi)

klik untuk download

2012 in review

The WordPress.com stats helper monkeys prepared a 2012 annual report for this blog.

Here’s an excerpt:

The new Boeing 787 Dreamliner can carry about 250 passengers. This blog was viewed about 1,400 times in 2012. If it were a Dreamliner, it would take about 6 trips to carry that many people.

Click here to see the complete report.

HUBUNGI SAYA

fotoku3x4APRIYONO PRASETYA BUDI

LUMAJANG JAWA TIMUR

PENEMU KAKON

KAKONINDONESIA@YAHOO.COM

“mari memudahkan siswa belajar matematika”

sementara ini MENYEDIAKAN PAKET BELAJAR PERKALIAN DASAR DAN PEMBAGIAN BERSUSUN

pesan secepatnya…

STOP KATROL NILAI!

STOP MENCONTEK!

MUDAHNYA MENGUASAI PERKALIAN DAN PEMBAGIAN CARA KAKON

Perkalian dan Pembagian sangat diperlukan mulai kelas 2 SD dan kelas diatasnya.

Tidak bisa perkalian dan pembagian artinya kesulitan belajar Matematika. Menghitung luas bangun datar, Mencari FPB dan KPK, Volume bangun ruang, Persentase, Skala, rasio, sudut, Kuadrat dan Akar kuadrat, Diagram lingkaran, dst semua membutuhkan keterampilan perkalian dan pembagian. Jangan sampai kesulitan belajar matematika menghambat belajar anak. Harus segera diatasi.

Perkalian dan pembagian yang saat ini diajarkan di sekolah secara umumnya dapat diibaratkan seperti kendaraan pesawat terbang. Hanya beberapa orang saja yang mampu mengendarainya yaitu pilot. Itu artinya hanya siswa yang cerdas matematika saja yang mampu melakukan perkalian dan pembagian. Jika pun ada pasti butuh belajar ekstra dan berat.

Sedangkan perkalian dan pembagian menggunakan cara KAKON dapat diibaratkan seperti kendaraan sepeda motor. Hampir semua orang mampu mengendarainya. Itu artinya meskipun kecerdasan matematikanya rendah, dapat dipastikan mampu melakukan perkalian dan pembagian. Caranya sangat mudah dipahami dan dilakukan.

Silahkan KLIK untuk download buku kakon 

Lihat vidio di bawah ini. Betapa mudahnya perkalian dan pembagian menggunakan cara KAKON

kakoncoklat

 untuk pembelian minimal 5 set

harga belum termasuk ongkos kirim. untuk ongkos kirimnya smskan kota tujuan kepada saya untuk saya konfirmasikan.

kakonputihuntuk pembelian satuan

harga belum termasuk ongkos kirim. untuk ongkos kirimnya smskan kota tujuan kepada saya untuk saya konfirmasikan.

Satu set terdiri dari kakon + satu botol manik-manik + petunjuk penggunaan.

Cara membeli KAKON

Pembayaran melalui BANK MANDIRI:

No. Rek.: 143-00-1056269-0

BANK MANDIRI KCP LUMAJANG

Atas Nama: Atin Rukmiati

Setelah transfer dilakukan sms/call saya:

Apriyono P. Budi

Hp: 0815 5995 6396

Rumah: Perumahan Suko Asri Blok E-14 Lumajang-Jawa Timur kode pos 67316

Pembagian bersusun tanpa porogapit

Memulai Berhitung Dengan Kakon

ini VIDEOnya

(Bagi siswa yang belum menguasai perkalian dasar maka alat kakon pembagian bersusun dapat dipakai. Namun jika sudah mampu pada pembagian bersusun maka dapat hanya menggunakan tabel saja)

Contoh Soal:

Berapakah hasil dari 684 : 6 ?…

Jawab:

Siapkan kakon pembagian bersusun dan alat tulis + kertas.

Buka kakon dan letakkan botol manik pada talam kakon.

Pada kertas buat tabel perhitungannya dengan jumlah baris disesuaikan dengan angka yang akan dihitung. Pada kasus kali ini 684 ditulis vertikal pada kolom angka. Sedangkan pembagi 6 tuliskan pada cell di antara cell Angka dan cell Sisa

Angka : 6 Sisa
6
8
4

Dimulai dari angka level paling atas yakni level ratusan. Ambil 6 manik dan taruh pada talam kemudian bagikan pada 6 petak kakon dengan sama banyak. Didapat masing-masing petak ratusan berisi 1 manik sama banyak dan tanpa ada sisa. Isikan pada tabel.

Angka : 6 Sisa
6 1 -
8
4

Berikutnya pada level puluhan, ambil 8 manik dan taruh pada talam kemudian bagikan pada 6 petak kakon dengan sama banyak. Didapat masing-masing petak puluhan berisi 1 manik sama banyak, namun masih bersisa 2 manik yang diletakkan pada petak sisa di level puluhan. Isikan pada tabel.

Angka : 6 Sisa
6 1 -
8 1 2
4

Nah, angka 2 pada kolom sisa, diletakkan di depan angka level bawahnya yakni pada angka level satuan. Sehingga angka pada level satuan menjadi 24. Berikut ini adalah tabelnya.

Angka : 6 Sisa
6 1 -
8 1 2
24

Dengan demikian perhitungan pada level satuan menjadi 24 manik yang akan dibagikan kepada 6 petak kakon dengan sama banyak. Sehingga masing-masing petak satuan berisi 4 manik sama banyak dan tanpa meninggalkan sisa. Isikan pada tabel.

Angka : 6 Sisa
6 1 -
8 1 2
24 4 -

Dengan demikian hasil dari 684 : 6 = 114 (pada tabel lihat angka 114 yang ditulis vertikal adalah hasilnya)

Matematika Dari Dakon

MENGGALI ARITMATIKA TRADISIONAL

Selama ini praktisi pendidikan mengenal alat hitung tradisional milik bangsa Cina bernama sempoa namun kurang begitu mengembangkan potensi alat hitung milik bangsa Indonesia. Alat hitung itu adalah Dakon.

Seiring dengan problematika yang melanda pendidikan tentang penguasaan matematika di tingkat dasar yang berlanjut sampai tingkat tinggi, kini Dakon muncul dengan fungsi upgraded dalam wujud kakon  dengan  lebih banyak fungsi untuk menunjang penguasaan materi matematika.

Fungsi dari kakon antara lain adalah penjumlahan dan pengurangan dasar, garis bilangan/bilangan loncat, penjumlahan maupun pengurangan bersusun, perkalian dan pembagian dasar, perkalian bersusun, pembagian bersusun, konversi satuan, penjumlahan dan pengurangan jam.

Pada permainan Dakon, anak-anak diajak untuk bermain dan tanpa terasa akan memiliki kemampuan dalam perhitungan. Agar menang pada permainan Dakon anak harus pandai mengurang dan menambah biji Dakonnya kemudian menyusun strategi pembagian agar dapat mengumpulkan biji Dakon sebanyak-banyaknya pada lubang hasil. Tentu saja mereka melakukannya dengan penuh riang gembira.

Pada generasi lalu Dakon bukanlah benda asing dalam dunia anak-anak. Namun pada masa sekarang ini, permainan Dakon sangat sulit ditemui bahkan hanya sedikit anak Indonesia mengerti permainan Dakon. Dakon merupakan alat permainan yang dikembangkan oleh nenek moyang bangsa Indonesia.

Ditengah cepatnya persebaran arus informasi diantaranya melalui televisi dan internet, banjir informasi sanggup melunturkan budaya bahkan kecintaannya terhadap tanah air. Anak-anak lebih menyukai permainan dari bangsa-bangsa lain seperti playstation dan game berbasis komputer, permainan dari Jepang yang disebarkan lewat filem kartun di televisi, dan permainan dari Cina melalui mainan-mainan murah berbahan plastik.

Menanggapi hal tersebut saya sebagai bagian dari masyarakat dengan latar belakang dibidang pendidikan selain telah menghasilkan karya-karya lain untuk mendukung dunia pendidikan juga telah berhasil mengkreasi mainan tradisional Dakon menjadi alat bantu belajar matematika pada tingkat operasi bilangan dasar untuk para siswa sekolah dasar (SD/MI).

Alat tersebut praktis dapat digunakan langsung oleh siswa dan guru pada beragam materi yang membutuhkan penjumlahan dan pengurangan dasar, garis bilangan/bilangan loncat, penjumlahan maupun pengurangan bersusun, perkalian dan pembagian dasar, perkalian bersusun, pembagian bersusun, konversi satuan, penjumlahan dan pengurangan jam.

Sebagaimana diketahui keterampilan-keterampilan berhitung dasar ini mutlak diperlukan pada seluruh pembahasan materi matematika tingkat selanjutnya. Bahkan soal cerita tidak akan banyak memberi manfaat untuk mengembangkan daya pikir matematis siswa jika operasional perhitungan bilangan dasar saja siswa tidak mampu. Sedangkan waktu, tenaga, dan konsentrasi guru sangat terbatas untuk terus melakukan bimbingan individu diantara puluhan siswanya. Dari sebab itu kakon diperlukan.

Berikut ini merupakan foto kakon dengan fungsinya masing-masing

Alat hitung ini merupakan hasil pengembangan dari mainan tradisional bernama Dakon. Alat ini dinamakan dengan kakon. Kakon merupakan akronim dari Kalkulator Dakon. Walaupun namanya kalkulator, kakon tetap membutuhkan konsep dasar perhitungan. Sehingga ketika melakukan permainan kakon pada akhirnya siswa tetap akan menguasai konsep hitung bilangan sambil bermain.

Catatan: Untuk mencapai Standar Kompetensi Lulusan (SKL) bukan dengan cara mengatrol nilai rapot namun harus melalui remidial. Mencontek bukanlah budi pekerti yang baik. Tumbuhkan kreatifitas bukan plagiat untuk meraih prestasi.

POROGAPIT VS KAKON

POROGAPIT VS  KAKON

(membahas salah satu fungsi dari 7 alat KAKON)

ini VIDEOnya

Pada artikel ini penulis masih mempertimbangkan unsur selera bagi masing-masing pengguna. Namun jika harus disampaikan kepada siswa SD dengan tingkat pemikiran yang masih konkrit, maka lebih bijaksana jika kita melihat perbandingan metode porogapit dan metode memakai kakon

Kelebihan porogapit dari segi kepraktisan, sistematika perhitungan, dan kemudahan dalam KBM (Kegiatan Belajar Mengajar) masih dapat dilakukan lebih baik dengan menggunakan KAKON.

Kelemahan porogapit

  1. Proses pembagian porogapit tidak melalui proses pengenalan dari bentuk konkrit. Porogapit dikenalkan langsung pada tahapan berhitung angka yang merupakan tahapan abstrak.
  2. Kelemahan ketika siswa membagi angka yang lebih kecil dari pembaginya, lupa tidak memberikan angka nol pada hasilnya.
  3. Kelemahan pada sistem penulisan perhitungan yang tidak lurus dapat berujung pada kesalahan pandang saat menghitung.
  4. Alur perhitungan yang menulis dengan arah bergantian atas dan bawah bisa menjadi beban pikiran siswa dalam melakukan pola hitung apalagi bagi siswa yang lemah dalam perhitungan (kebingungan pola).

Kelebihan pembagian bersusun KAKON

  1. Dapat diajarkan sesuai dengan teori pembelajaran matematika Bruner yang dimulai dari tahapan konkrit dikarenakan teknik pembagian bersusun KAKON, memiliki alat peraganya.
  2. Sistematika penulisan dalam bentuk tabel, lebih memudahkan ketika menghitung dan meminimalisir kesalahan proses hitung. Dikarenakan alurnya yang lebih simple (runtut menyamping dan ke bawah).
  3. Siswa yang belum menguasai perkalian dapat melakukan pembagian bersusun baik dengan menggunakan alat KAKON ataupun tanpa menggunakan alat KAKON yaitu bisa dengan cara menggambar.
  4. Konsep pembagian lebih konkrit dan lebih mudah diterima.

Kelemahan pembagian bersusun KAKON. Acuan teori pembelajaran yang digunakan masih menggunakan teori mengajar Bruner yaitu Enaktif (konkrit), Iconic (semi konkrit), Abstract. Sehingga dalam hal ini kelemahan metode pembagian bersusun masih belum ditemukan.

Bandingkan  contoh penggunaan metode porogapit dan pembagian bersusun metode kakon berikut:

Cara Porogapit dari buku Cerdas berhitung matematika 3 : untuk SD/MI kelas III/Nur Fajariyah, Hal. 64

Cara KAKON

a)      245 : 5

dibagi : 5 sisa
2 0 2
24 4 4
45 9 -

245 : 5 = 49

b)      392 : 7

dibagi : 7 sisa
3 0 3
39 5 4
42 6 -

392 : 7 = 56

Sampai disini manakah yang lebih anda sukai, tentu anda sendiri sebagai pemakai yang berhak menentukan.

Mengenai pengajaran pembagian bersusun KAKON kepada siswa ada 3 tahap yang dilakukan. Sesuai dengan teori bruner

1. Tahap Enaktif (fakta konkrit)

Dihadirkan benda kakon untuk dimainkan siswa.

2. Tahap Ikonik (semi konkrit)

Penggambaran alat kakon menjadi bentuk tabel.

3. Tahap Simbolik (abstrak)

Pentabelan pembagian bersusun kakon. Pada tahapan ini siswa akan mampu menghitung pembagian bilangan hingga angka berapapun.

Berdasarkan uji coba di kelas. Kecepatan siswa melalui setiap tahapan bervariasi dan kakon mampu menampung semua siswa hingga tingkat yang mampu ia capai. Meskipun waktu pemahaman berbeda namun semua siswa masih mampu berupaya pada setiap tahap. Sedangkan pada porogapit dikarenakan pembelajaran langsung pada tahap simbolik (abstrak) maka siswa yang kecerdasan matematiknya kurang, siswa tersebut tidak mampu berbuat apa-apa (tidak ada pekerjaan yang dapat dilakukan untuk berlatih).

Kalimat mudahnya dengan menggunakan kakon, pembagian bersusun hanyalah sekedar mainan.

Untuk selanjutnya dapat dilihat pada proposal KAKON (Ada 7 alat dengan multi fungsi. Sedangkan pembagian bersusun metode KAKON adalah salah satu fungsi saja). Silahkan hubungi saya:

KAKONINDONESIA@YAHOO.COM

Mari selamatkan Generasi Indonesia, dari stress akibat belajar…

Mari beri kemudahan dalam belajar…

Stop! Mencontek

Stop! Katrol nilai…

MASALAH MATEMATIKA ADA PADA BERHITUNG DASAR

MASALAH MATEMATIKA ADA PADA BERHITUNG DASAR

 

Menurut Staff Ahli Menteri Bidang Teknologi Prof Kamalamullah Ramly sesuai dikutip dari Harian Republika (Jumat, 30/12/11) bahwasannya pendidikan sains dan technologi mampu meningkatkan daya saing bangsa, ia mengatakan insinyur itu tulang punggung kemajuan ekonomi sebuah bangsa.

 

Prioritas permasalahan yang akan dibahas adalah mengenai bagaimana menyelesaikan permasalahan pengajaran matematika agar lebih familiar bagi siswa. Matematika dipilih dikarenakan hampir semua siswa mengatakan mata pelajaran paling sulit dan membuat siswa tertekan adalah matematika. Padahal ketika berbicara mengenai daya saing suatu bangsa maka tidak dapat dijauhkan dari penguasaan IPTEKS (Ilmu Pengetahuan Teknologi dan Seni). Matematika tidak hanya dibutuhkan pada jurusan IPA namun jurusan IPS, Bahasa, dan Seni juga pasti bertemu dengan matematika.

 

Matematika memang bukan indikator utama kecerdasan siswa namun setidaknya penguasaan siswa terhadap materi matematika dapat menyebabkan siswa lebih menyukai sekolah dan lebih memudahkan mereka berpikir logis serta berurut dalam menerima bermacam materi lainnya. Perhatikan petikan berikut ini:

 

”Latar Belakang Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar

Mata Pelajaran Matematika untuk Sekolah Dasar (SD)/Madrasah

Ibtidaiyah (MI)

Matematika merupakan ilmu universal yang mendasari perkembangan

teknologi modern, mempunyai peran penting dalam berbagai disiplin dan

memajukan daya pikir manusia. Perkembangan pesat di bidang teknologi

informasi dan komunikasi dewasa ini dilandasi oleh perkembangan

matematika di bidang teori bilangan, aljabar, analisis, teori peluang dan

matematika diskrit. Untuk menguasai dan mencipta teknologi di masa depan

diperlukan penguasaan matematika yang kuat sejak dini.”

 

Materi matematika mutlak dikuasai secara berkesinambungan karena pemahaman yang putus jenjang akan menyulitkan memahami materi berikutnya. Itulah kenapa mata pelajaran fisika dan kimia tingkat SMU juga mendapatkan imbas akibat kurangnya pemahaman siswa terhadap perhitungan matematika sejak dini.

 

Oleh karena materi yang berjenjang itulah maka penguasaan materi dasar harus diperkuat diantaranya adalah operasional bilangan. Banyak siswa tidak menguasai perkalian dasar, pembagian dasar, perkalian bersusun, pembagian bersusun serta bentuk-bentuk operasi dasar bilangan lainnya. Sehingga ketika guru hendak mengembangkan materi dalam bentuk proses belajar yang aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan sangat sulit diterapkan karena para siswa masih terus bermasalah dengan materi operasi dasar bilangan. Perhatikan petikan berikut ini:

”Panduan penyusunan Kurikulum tingkat satuan pendidikan

Jenjang pendidikan dasar dan menengah Badan standar nasional pendidikan 2006

Panduan pengembangan kurikulum disusun antara lain agar dapat

memberi kesempatan peserta didik untuk :

(e)belajar untuk membangun dan menemukan jati diri melalui proses

belajar yang aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan.”

 

Solusi dari DikNas sekarang DIKBUD

Jika berbicara mengenai permasalahan dunia pendidikan secara umum tentu saja Diknas telah melakukan banyak rencana strategisnya. Namun pada kesempatan ini akan dibahas sebuah alternatif praktis solutif. Salah satu caranya adalah dengan banyak memberikan metode-metode baru mengenai keterampilan-ketampilan mengajar guru. Tentu saja keterampilan yang diberikan harus efektif untuk diterimakan kepada siswa sehingga materi tersampaikan dengan lebih cepat dan efisien (ekonomis).

 

Sadar bahwa guru adalah ujung tombak pendidikan maka pemerintah berpikiran untuk selalu dilakukan pelatihan-pelatihan guru agar materi-materi yang diamanatkan kurikulum tercapai dengan baik dan benar sesuai dengan standar yang ditetapkan BSNP. Dimulai dari program pelatihan guru secara nasional ”Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PPPPTK) Matematika Yogyakarta”. Pada pelatihan ini peserta dipilih dari setiap kabupaten untuk di ”DIKLAT”  secara intensif kemudian diharapkan dapat meneruskannya di kota masing-masing dalam bentuk Kegiatan Pelaksanaan Program Tindak Lanjut. Pada program tindak lanjut ini materi disampaikan secara bertahap mulai dari lingkungan sekolah utusan, KKG Guslah (kelompok kerja guru gugus sekolah) lingkungan utusan, KKG se-Kecamatan, hingga UPTD se-Kabupaten. Sampai disini perhatian pemerintah memang sangat besar demi keberhasilan pendidikan bangsa ini.

 

Mengenai keberhasilan program ini patut kiranya dilihat penerapannya di sekolah-sekolah. Lakukan penyelidikan sederhana. Caranya:

1. uji kemampuan siswa sesuai tingkatannya bahkan untuk kelas V masih bejibun yang belum mampu melakukan pembagian bersusun. Materi pembagian bersusun disampaikan mulai kelas tiga smt 1 dan kelas IV semester 1. Wajar jika belajar menyenangkan belum dapat dilakukan. Berhitung dasar saja belum mampu apalagi analisa soal cerita.

2. bertanya kepada guru kelas VI (enam). Apakah menyenangkan mengajarkan matematika kepada kelas VI (enam). Kebanyakan akan menjawab dengan penuh emosional atau pasrah dengan keadaan. Jika materi sekolah dasar belum optimal dikuasai bagaimana untuk kelanjutan materi SLTP dan SLTA bukankah hirarki belajar matematika harus berjenjang. Pantas kiranya jika matematika masih menjadi hambatan pelajar bangsa Indonesia.

3. uji nilai rapot siswa. Cari fotokopi naskah soal matematika yang baru diujikan kemudian suruh siswa untuk mengerjakan. Kemudian nilai sendiri layakkah nilai pada raport diberikan?

 

Jika ketiga tes sederhana ini hasilnya positif maka sekolah yang anda uji coba layak bagi putra-putri anda. Jika hasilnya sesuai dengan yang saya tuliskan maka walaupun anda guru pada sekolah tersebut maka anda akan berpikir 1000 kali untuk menyekolahkan anak anda di tempat itu.

 

Keberhasilan guru mengajar bukan karena ada satu siswa yang berhasil mendapat nilai 9 atau 10 bahkan memenangi kontes matematika, namun jika siswa yang mendapat nilai kurang dari 6 masih 50% maka masih sulit dikatakan berhasil.

 

Permasalahan pokok dari pengajaran matematika di tingkat sekolah dasar bukan pada motivasi belajar murid yang rendah karena mereka anak desa, anak petani, orang tua yang tidak peduli atau alasan latar belakang siswa lainnya. Permasalahan pokoknya ada pada kurang berhasilnya metode yang digunakan guru untuk menyampaikan materi dikelas. Tentu ada pertanyaan mau memakai cara apalagi? Semua sudah saya lakukan agar murid saya mengerti. Murid saja yang tidak mau mendengarkan dan ramai sendiri.

 

Untuk manjawab pertanyaan ini saya telah melakukan uji coba di kelas pedesaan yang bahkan masyarakat sekitar yang memiliki dana, lebih memilih sekolah di daerah lainnya (informasi kepseknya), saya melakukan uji coba di kelas yang muridnya sulit diatur (versi wali kelas V). Setelah saya masuk selama tiga hari pada kelas V dan kelas III, hasilnya siswa termotivasi untuk belajar lihat VIDIO dan FOTO yang saya ambil. Padahal saya mengajari mereka perkalian bersusun dan pembagian bersusun yang memang awalnya mereka tidak bisa. Untuk hal ini saya menyampaikan hormat saya dan rasa terima kasih saya kepada kepala sekolah dan para guru yang memberikan ijin kepada saya untuk melakukan uji coba.

 

Solusi KAKON

Mengenai fakta ini saya bukan bermaksud menyalahkan para guru karena ternyata secara nasional masalah pengajaran pembagian bersusun memang sulit ditangani. Untuk itulah bagi yang berkepentingan untuk MENGUJI metode mengajar hitungan dasar yang saya temukan apakah layak diterapkan pada sistem pendidikan dasar di Indonesia.

 

Mengingat teknik porogapit sangat abstrak dan tidak memenuhi teori pembelajaran discovery oleh Bruner. Maka sudah selayaknya untuk mempertimbangkan metode pembagian bersusun KAKON. Baca artikel saya porogapit VS tabel kakon

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.